19 Oktober 2011
Aku, Seorang Pengangguran
"..Aku hanya ingin semua yang telah kulakukan dan kukorbankan untuk semua ini, mendapatkan sebuah tanggapan secara pasti..."
Di tengah hiruk pikuk manusia dalam mencari sebuah status pekerjaan. Aku lebih memilih untuk menjadi seorang pengangguran. Kebebasan adalah tujuan utamaku. Hidup hanya satu kali dan aku ingin hidup dengan penuh kebebasan, tanpa tekanan, tanpa paksaan. Menjalani hidup dengan penuh aktifitas yang hanya kusenangi. Dan membuang jauh-jauh aktifitas membosankan.
Terserah ya bagaimana tulisanku ini diterjemahkan. Aku hanya ingin menuliskan apa yang kurasakan.
Dalam pengangguranku, aku menjadi seorang pimpinan di sebuah website media online, yang mungkin sudah banyak dikenal, yang mungkin sudah banyak bermanfaat untuk banyak orang. Yang mungkin sudah menjadi salah satu pembeda dengan website lain dalam hal kemas-mengemas.
Bagi kebanyakan orang, mungkin pengangguranku ini tak ada guna. Ya, tanpa gaji, tanpa imbalan, dan seolah tanpa motivasi. Stuck pada kata disorientasi. Karena memang anggapan itu benar, mungkin.
* * *Dengarkan ceritaku.
Awal mula aku mendirikan sebuah kerajaan mini ini adalah ketika ada seorang kawan yang menawarkan sebuah wacana tentang pembentukan sebuah media online dengan fokus penyajian konten dan berita seputar Islam. Dan ini adalah impianku dua tahun lalu. Mengelola sebuah website yang menyajikan konten Islam, karena aku tahu, banyak website Islami dengan tampilan yang menurutku kurang nyaman di mata. Aku tidak tendensius. Aku hanya mengutarakan penilaianku dalam batas kemampuanku. Aku tidak sombong, apa salahnya berkata jujur? Toh pada kenyataannya bukan hanya aku yang mengatakan demikian, bahwa website Islam yang ada sekarang masih banyak yang berpenampilan jadul.
Kontan aku menyambut wacana dari kawan itu dengan semangat menggebu. Impianku dua tahun lalu adalah mempunyai website Islami dengan tampilan modern, memiliki high traffic, segudang fitur bermanfaat, dan bisa dijadikan salah satu rujukan.
Dimulailah pengumpulan nama yang berkompeten di bidang masing-masing. Oh iya, aku agak sensitif dengan kata kompeten. Bagiku, kata kompeten itu bukanlah orang yang ahli pada suatu bidang, tapi lebih pada kemampuan dalam memanajemen suatu bidang.
Satu nama muncul, dua nama masuk, bertambah lagi. Tiga, empat, dan total hingga ada tujuh nama yang sempat melakukan rapat online secara bersamaan. Membahas ini itu, janjian online bareng jam sekian, berdebat ini itu, merumuskan formula, membandingkan antara wacana dan pengalaman.
Tak terasa, sudah sekian bulan website itu berjalan. Banyak pengalaman baru pastinya, tidak hanya dukungan, kritikan pun berdatangan. Mengatur pola pergerakan dan strategi dalam menjaga keberlangsungan. Tidak mudah, cukup menyita banyak waktu.
Stress! Iya, pasti.
Bagaimana tidak, di sini aku terlalu bersemangat untuk mencurahkan segala perhatian dan pengertianku untuk web. Tapi dukungan yang diberikan tidak pernah maksimal. Entahlah, hanya perasaanku mungkin. Aku minta maaf jika apa yang kurasakan ini keliru. Aku hanya lelah, lebih dari enam puluh persen pekerjaan di dalamnya hanya kulakukan seorang diri. Tak mengapa kan kalau aku bespekulasi bahwa itu enam puluh persen, bisa lebih, bisa kurang.
Ketika aku butuh perhatian serius, tak ada tanggapan. Ketika aku butuh bantuan, ya mungkin ada, tapi tak bertahan. Ujung-ujungnya aku bekerja sendiri, lagi.
Iya, saat ini aku sedang dalam kondisi labil. Tak perlu dipertegas. Hanya akan menambah ketidakmanfaatan. Tapi, mungkin ada satu hal yang perlu diketahui, bahwa bagiku labil itu adalah hak segala bangsa, dan hak segala usia, bukan hanya hak anak kecil usia muda, seperti aku misalnya.
“Kakek 57 tahun tega memperkosa cucunya sendiri.”
“Ibu membakar bayinya hidup-hidup.”
“Seorang ayah melempar anak balitanya hingga tewas.”
Ini fakta! Demikianlah adanya. Dan ini bukan tentang batasan usia. Aku sudah kenyang dengan kata-kata “labil” dan “anak kecil” yang pernah disampaikan. Sewajarnya manusia, akupun merasa sakit ketika gelar-gelar itu disampaikan tidak pada tempatnya. Aku hanya ingin pandangan sebelah mata itu tidak berpicing terhadapku. Tapi apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Aku hanya bisa diam menahan sesak dan berkata dalam hati, “Mengapa mereka menganggapku seperti itu?“.
Terkadang, dalam hatiku yang lain mengatakan “Aku harus menunjukkan bahwa aku bukanlah seperti apa yang mereka katakan.” Tapi, lagi-lagi aku terbentur. Kondisi pikiran dan badanku sudah lebur, tenagaku juga sudah futur. Bukan karena Mengapa, Apa, dan Bagaimana. Tapi lebih karena mendapati diri yang berlari terlalu kencang hingga tak terasa, aku sudah berada pada suatu wilayah yang berbeda, seorang diri. Kalau sudah begini, biasanya aku merebahkan badan dan mengulang-ulang dalam pikiranku sebuah kalimat “How to.. How to.. How to..“.
Pikiranku stuck, “Bagaimana supaya ide-ide cemerlang ini bisa diaplikasikan?” Ya, begitulah. Aku sudah sering menyampaikan, tapi entah mengapa hanya seperti angin lalu. Aku juga tidak sanggup jika harus terus menerus bekerja sendirian. Ada usul dari si A, aku yang kerjakan. Usul dari si B, aku yang kerjakan. Usul dari diriku sendiri pun aku yang kerjakan. Tidak (terlalu) salah kan jika aku berkata demikian? Bukannya tak menganggap keberadaan, jasa dan pengorbanan dari yang lain. Tapi, seperti apa yang kutuliskan di awal, enam puluh persen itu membuatku mati rasa. Membuatku seolah tak tak berdaya.
Hei! Ini tentang team-work. Pembagiannya sudah diatur dengan kapasitas masing-masing. Lagi, kalau berbicara tentang kapasitas, aku sedikit sensitif. Kapasitas itu bukan tentang tingkat kemampuan seseorang dalam mengerjakan sesuatu, tapi lebih spesifik jika dikaitkan dengan waktu. Tentang kesibukan, misalnya. Dan pembagian itu sudah diatur menurut kapasitas. Entah perhitunganku yang salah, atau karena faktor lain.
Entah mungkin juga karena ada kaitannya dengan usiaku yang masih kecil. Sebenarnya aku sudah bosan berbicara tentang usia. Tapi bisa jadi ini sebagai salah satu penyebab suaraku dianggap sumbang. Yang keberadaannya hanya untuk didengar dan dibuang.
Bosan membaca catatan ini? Silahkan. Aku tak pernah memaksa Anda untuk terus membacanya, karena di atas juga sudah tercantum dan kuputuskan untuk memasukkan catatan ini dalam kategori Sampah, Trash.
* * *Belum selesai dengan urusan yang satu ini, aku mencoba melangkah ke tempat lain, mencari suasana lain yang sepertinya lebih menyenangkan. Berkumpul dengan anak-anak muda, penuh ceria dan canda tawa. Awalnya, kupikir di tempat ini aku akan menemukan sebuah semangat, inovasi, serta ide-ide baru.
Sejenak berhenti dari aktifitas sebelumnya, beristirahat sambil merenung untuk berbagai visi di tempat baru. Ada banyak wacana dan topik yang sepertinya asik untuk dibicarakan bersama dengan para pemuda penuh gelora. Aku sangat betah dengan jiwa dengan panas bara di sini. Membuat pikiranku lebih terbuka dan melayang jauh. Hingga akhirnya, aku mendapat jatah untuk mengelola sebuah website (lagi), kali ini website tentang pemuda. Juga forum yang akan terintegrasi di dalamnya. Sebagai ajang berkumpulnya komunitas dalam dunia maya.
Aku bukan seorang yang merasa expert di bidang Web Programming, tapi bolehlah jika aku menganggap bahwa diantara sekian banyak mata-kepala yang kukenal, aku adalah salah satu yang terbaik. Aku sedang tidak menyombongkan diri, biarlah portfolios dan testimoni yang berbicara terbuka. Jadi, apa salahnya jika aku benar-benar memanfaatkan keahlianku untuk banyak orang? Kupikir ini sebuah keputusan yang baik, dan aku menyukai itu.
Dua tahun lalu, bukan hanya bermimpi untuk memiliki website yang berkapasitas, tapi juga memiliki impian sebagai salah satu pribadi yang mampu menyumbangkan karya untuk perubahan. Kiranya aku berada di tempat yang sangat tepat sekarang. Impian-impian masa laluku kini begitu dekat, atau bahkan sudah tercapai? Aku tak pernah menyayangkan pilihan-pilihan dan berbagai kesempatan yang sudah kutetapkan.
Di komunitas anak-anak muda yang awalnya kupikir merupakan tempat yang cocok untuk bersenang-senang ini, ternyata kondisinya justru lebih parah. Maaf aku berkata demikian, itulah yang kurasakan. Gap dan semangat untuk melakukan perubahan seperti hanya nangkring di bibir dan jari saja. Bibir sibuk komen ini itu, dan jari sibuk komen ini itu. Ketika diminta masukan, pendapat, dan sumbangan ide, ocehan itu tiba-tiba hening. Lebih tepatnya diam. Meski tidak semua demikian.
Di komunitas anak muda ini sebenarnya ada banyak orang-orang berpotensi. Dan aku kagum dengan berbagai macam kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Andai saja bisa disatukan dengan baik, dan ditata dengan rapi. Namun sayang, gembongnya juga merupakan orang yang masih dalam kategori.. seperti itulah. Dan aku merupakan orang yang (mungkin) paling sering terlibat kontak verbal dengannya, sedikit banyak bisa memaklumi mengapa semuanya jadi tidak rapi.
Melakukan penataan dan manajemen itu bukan untuk bahan percobaan di muka umum, tapi menjadi bahan pelatihan untuk kalangan sendiri. Di bagian ini, ada banyak ketidakcocokan antara jiwa kebebasanku dengan pola pikir yang lain.
Aku merupakan pribadi perfeksionis dengan sedikit bumbu melankolis, mungkin. Menyukai suatu hal yang detail, sederhana, dan sempurna. Ini bukan tentang selera, tapi lebih pada kepentingan kolektif. Bagaimana tidak, aku sudah memutuskan untuk menjerumuskan diri pada hal-hal kolektif, kebersamaan, dan kepentingannya untuk banyak orang.
Mungkin ada beberapa kepala yang lupa, bahwa pada lingkup ini bukan hanya sekedar menyalakan lampu di kepala, menawarkan wacana, dan mempublikasikan terhadap realita. Itu sampah, kawan. Perlu didaur ulang untuk bisa dinikmati kembali. Alih-alih sampah organic, masih bisa bermanfaat, kadang tak sadar bahwa itu adalah sampah limbah.
Bolehlah aku blak-blakan tentang semua ini. Karena, meski tulisan ini masuk dalam kategori sampah, aku masih mempunyai sedikit harapan untuk melakukan perubahan ini secara jama’i, secara kolektif, secara bersama.
Melalui catatan ini kusampaikan, tentang segala rasa, tentang segala cinta.
* * *Menjadi Administrator sebuah website itu bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Apalagi jika tahu kenyataannya bahwa hanya segelintir orang yang mempunyai keahlian serupa, itupun belum tentu satu visi dan misi. Bolehlah berkata jujur bahwa ini adalah pekerjaan yang membosankan. Secara logika mudah dijawab. Apa yang bisa dibanggakan? Menjadi terkenal tidak, masih mending fokus menulis, nama bisa terpajang, blog banyak yang melirik, nama semakin diketahui publik.
Produktifitas menulisku pun kini menurun, semua terforsir untuk menyusun bait-bait kode, yang aku tahu tidak lebih dari hitungan jari, orang-orang yang membaca kode-kode itu dengan sambil menyunggingkan senyum dan berkata dalam hati, “Pembuat kode ini adalah orang jenius“. Berjam-jam waktu kuhabiskan untuk menambal celah-celah script, mempelajari ilmu-ilmu baru tentang optimasi website, dan panel-panel di bagian dalam untuk memfasilitasi para penghuninya agar lebih mudah dalam bekerja. Membuat satu form singkat itu membuat otakku mendidih. Menerima masukan dari banyak orang tanpa ia mau mengerti betapa perihnya merangkai bait kode, barang lima baris.
Kadang ingin sekali mengajak rekan satu tim untuk kerja bersama, tapi selalu saja sulit untuk merangkai pola komunikasi yang baik. Hanya bisa menghela nafas ketika ujung-ujungnya Admin yang disalahkan. Aku bosan menjadi kambing hitam.
Tidak hanya otak yang dipaksa rodi, mataku sudah merah, minus miopi bertambah, tanganku lelah, dan badanku seperti halnya habis digodam, remuk redam. Lebay ya? Mungkin, tapi hingga catatan ini tertumpah ruah, aku masih merasakan semua keletihan itu.
Tak perlu ditanya, apa motivasiku melakukan semua ini. Bertahan mati-matian untuk sebuah hal yang melelahkan. Untuk apa aku disini.
Aku sedang tidak mengeluh, kawan. Aku hanya ingin semua yang telah kulakukan dan kukorbankan untuk semua ini mendapatkan sebuah tanggapan secara wajar. Sewajar seorang teman yang saling mencinta karenaNya.
Aku tak ingin ada pihak yang menjadi ketergantungan terhadapku. Mungkin tak menjadi masalah jika aku bekerja sendiri. Tapi masalahnya, aku tidak mungkin hidup selamanya. Aku tidak mungkin sehat selamanya. Aku juga tidak mungkin luang selamanya. Bahkan sebuah mesin pun butuh istirahat dalam tugasnya. Aku tak ingin perjalanan ini hanya bergantung pada satu orang. Aku tak ingin perjalanan ini berhenti hanya karena satu orang.
* * *Banyak tawaran mengajar di luar sana yang sempat menyita perhatianku. Tidak sedikit tawaran kerja untuk mengembangkan website di luar sana yang menawarkan opsi gaji. Dan tak sedikit tawaran-tawaran lain yang pastinya tidak dapat kuingat satu per satu. Tapi, aku memantapkan diri untuk tidak menjadi egois pada diri sendiri. Aku ingin total mengabdi di jalan ini.
Jangan kira aku tidak punya mimpi. Silahkan baca sebuah kalimat di bagian paling bawah blog ini. Dan itulah sedikit kutipan singkat tentang perjalanan hidupku. Aku punya mimpi, kawan. Sama seperti halnya manusia lain.
Pengangguranku, kuserahkan sepenuhnya untuk sebuah misi besar yang akan kulalui bersama orang-orang besar. Kalian para sahabatku. Aku yakin, mimpi besar yang masih tercerai ini bisa disatukan dengan sebuah resolusi ruhiyah, memperbarui niat, dan memperkuat istiqomah.
Pengangguranku, untuk sebuah tujuan yang pasti. Jadi berhentilah untuk terus memaksaku melakukan rodi. Berikan dukungan kalian dalam bentuk kerjasama kreatif. Karena bagiku, tak ada alasan bagi seseorang untuk berkata tidak.
Aku, seorang pengangguran.