13 Februari 2013

Mac Mini

Mac Mini

"..Rejeki emang ngga kemana, kalo udah waktunya jatoh ya jatoh. Gitu kan?.."

Mac Mini

Termasuk juga ketika kita udah mengerahkan banyak pikiran dan tenaga untuk mengejar sebuah angan, ternyata Allah mau Kun Fayakun-in angan itu dengan hasil yang lebih hebat dari apa yang kita bayangin, dan cara datengnya jauh lebih gampang daripada korek-korek upil. Asli, ini pengalaman yang ngga disangka-sangka.

Oke, pengalaman ini dialami oleh saya dan istri (sebenernya lebih asik disebut pacar, he). Kita mulai kisahnya di paragraf ketiga aja ya, biar bacanya lebih enak, piss V.

Tiba hari dimana barang yang di amanahkan pada istri saya dari salah satu organisasi Muslimah, dikembalikan (bisa dipahami kan kalimatnya, he). Barang itu berupa laptop, yang selama ini menemani hari-hari sang istri untuk melakukan aktifitas digitalnya, termasuk menjalankan tugas dari organisasi Muslimah itu. Dikembalikan, atau lebih tepatnya diamanahkan lagi pada orang lain yang lebih membutuhkan, kira-kira kaya begitu.

Mau tidak mau, terpaksa Macbook harus diduakan. Maksudnya dipake bedua, gantian antara saya dengan istri, meski kenyataannya lebih banyak waktu yang saya habiskan bersama Macbook. Kasihan istri saya.

Mendadak hidupnya jadi galau. Telpon ngga diangkat, SMS ngga dibales, eh bukan, maksudnya mau ngetik ngga bisa, mau update website juga susah.

“Kita perlu segera beli laptop baru deh.” Kata istri saya dengan suara parau.

“Hm..” saya pura-pura berpikir.

Ya, kali ini keluarga saya lagi tidak ada uang. Hanya ada uang buat makan, minum, bayar listrik, bayar tukang sampah, bayar cemilan, bayar internet, bayar hal-hal yang memang perlu dibayar. Uang hanya tersisa beberapa juta yang tidak akan cukup untuk sedot laptop baru.

Hari gini kebutuhan untuk ngetik dan internet, RAM minimal harus 2GB, bukan soal bisa dipake atau engganya, tapi soal efektifitas waktu dan tenaga. Masa mau buka 1 aplikasi, sebutlah Firefox, harus nunggu 20 detik. Bete deh. Belum lagi buka MS Word 30 detik. Ditambah lagi buka tab browser, yang kalo terlalu banyak nanti bisa Not Responding beberapa detik. Dan itu akan berulang seumur hidup. I am sure, she will be frustated.

Tak ada angin tak ada hujan, kebetulan pada saat itu pagi hari dan cerah, meski sorenya hujan deras. Saya membuka notifikasi Gtalk dari salah seorang kawan. Tung.

“Mas, saya mau jual Mac Mini, harganya 3,5jt.”

Membaca pesan itu tidak tertarik. Mac Mini second hand, harga segitu memang harga normal. Tapi saya mulai belingsatan ketika kawan saya itu meneruskan chatnya.

“Udah sekalian LCD Samsung 21 inch, Keyboard Apple yang tipis, Mouse Apple.”

Pikiran saya langsung berputar-putar. What should i do now?! Makin menggila ketika kawan itu menceritakan kisah awal ia membeli barang-barang tersebut.

“Dulu saya beli Mac Mini 6,5jt, LCD 1,7jt, Keyboard 700rb, Mouse 250rb.”

Kalau di total semuanya sekitar 9 juta. Kalaupun masuk dalam kategori bekas, parah juga kalo dijual 3,5jt. Kalau ngga segera saya sikat, bisa-bisa digasak orang lain. Alamak!

Saya langsung kabari istri tentang adanya barang langka di depan mata. Mengajaknya memutar otak bersama, karena kami percaya bahwa orang yang sudah sah bersatu secara agama memiliki nilai yang berbeda di hadapan Allah ketimbang seorang bujang. Nah, di sini kami mencoba untuk saling menyampaikan gagasan dan ide. Apa yang harus dilakukan supaya barang langka itu tidak jatuh ke tangan yang tak semestinya.

“Kita harus cari pinjaman.” ujar istri penuh kemantaban.

Kalimat yang sama sudah melayang-layang di kepala, mencari orang yang mau diutangi. Ha!

Menyapa satu demi satu. Harapan hampir sirna, tak seorangpun berkenan kami utangi. Bukan karena kami memiliki wajah yang tak sanggup bayar utang, tapi karena akhir bulan, doku mereka juga pada tipis. Aih!

“Sudah ada yang mau beli mas? Saya tunggu sampai Maghrib ya.” ujar si kawan yang jual Mac Mini nya.

Tidaaakk, deadline ikut menghantui pikiran kami.

Singkat cerita, meski harapan hampir sirna, kami percaya bahwa hasil terbaik akan muncul justru di puncak ujung tanduk kerbau marah. We do what we can do. Semangat cari utangan!

Allah Maha adil, akhirnya kami berhasil mendapatkan utang. Alhamdulillah, kami ngutang!

Pinjaman ini kami gunakan untuk menutupi separuh kekurangan di hari itu. Ada seorang yang baik hati yang rela meminjamkan uangnya pada kami, meski tak ada jaminan uang akan kembali, ngiahaha.

Well, Mac Mini sekarang sudah menemani hari-hari sang istri. Dia kembali ceria, hidup yang sebelumnya grayscale kini menjadi berwarna. Hatinya riang dan senang. Dan tak berselang lama, Allah kembali memberikan kejutanNya yang tak terduga. Apa mau dikata, Allah tidak ingin hutang ini tertundan lama-lama. Beberapa hari kemudian, kami berhasil nyaur utang. Dengan jumlah sisa di doku yang sangat cukup untuk melanjutkan perjuangan hidup.

Seperti biasa, setiap kali saya atau istri punya barang baru, kami selalu mendoakan satu sama lain.

“Cie komputernya baru.” ujar saya pada istri sambil genit-genit gemana geto, dan dilanjut, “Semoga berkah yaa. Amin.”

Dan keluarga Apple pun bertambah satu. Cheerss. Motretnya pake kamera HP.

Catatan Lainnya: