22 April 2012

Miss Communication

"..Judul ini tidak terlalu nyambung dengan isi catatan di dalamnya.."

Saya pernah membahas tentang Seni Musik dalam sebuah catatan yang cukup panjang tentang bagaimana Islam mengajarkan adab-adab dalam bermusik. Namun disini saya tidak akan membahas hal itu lagi, saya hanya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman saya yang agak sedikit langka tentang perbedaan cara pandang mengenai hukum musik dalam Islam.

Di pertengahan Desember 2011, ada salah seorang kawan baru menghubungi saya. Ia berniat mengundang saya untuk membuka kelas training di lembaganya (saya kurang tahu apakah itu lembaga atau bukan, yang jelas itu merupakan sebuah perkumpulan yang ada struktur kepengurusan di sana).

Singkat cerita, saya meng-iya-kan permintaan tersebut. Komunikasi terus berlanjut, hingga diputuskan bahwa acara akan diadakan pada tanggal 5, 6, 7 Februari.

  • Fimadani menyajikan artikel dan berita keislaman yang Insya Allah bermanfaat.
    www.fimadani.com
  • Review singkat tentang MacBook Pro
    www.vatih.com

Hingga suatu ketika, saat saya sedang istirahat dalam sebuah sesi training di Makassar, saya teringat suatu hal. Ya, tentang mereka yang mengundang saya untuk mengisi kelas training pada tanggal 5, 6, 7 Februari itu. Saya tahu bahwa mereka memiliki cara pandang yang berbeda dengan saya ketika berbicara tentang musik. Tentu ini berbanding lurus dengan pola teknis saya saat membawakan materi dalam sebuah kelas training.

Bagi seorang trainer, musik atau backsound adalah salah satu unsur terpenting yang akan membuat acara menjadi berbeda. Apalagi dalam kelas yang saya bawa ini lebih berfokus pada praktek. Anda bisa membayangkan seandainya backsound tidak mengiringi jalannya acara, maka suasana akan terasa hampa setiap kali para peserta mengerjakan tugas yang saya contohkan. Ada banyak alasan mengapa musik harus dijadikan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam trining yang saya bawa.

Saya mengirimkan sebuah pesan singkat yang intinya saya menyampaikan konfirmasi bahwa dalam acara saya nanti akan ada backsound yang menjadi bagian dari kelas training. Dan jawabannya seperti yang sudah saya tebak sebelumnya bahwa mereka menginginkan untuk menghilangkan musik selama jalannya acara.

Dalam hal ini, saya adalah orang yang berada pada posisi yang ‘dibutuhkan’, sedangkan mereka adalah orang yang ‘membutuhkan’. Dan bukan hanya itu, kalau ingin dianalogikan, maka saya adalah seorang dokter, dan mereka adalah pasien. Sudah tentu yang membuat resep adalah si dokter, dan resep itu diberikan pada pasien. Bisa dibayangkan ketika pasien membuat resep untuk dirinya sendiri, maka akan ada hal-hal yang berjalan dengan tidak semestinya.

Komunikasi berlanjut, dan saya memutuskan untuk mengcancel acara untuk tanggal 5, 6, 7 Februari tersebut. Saya memang berada dalam posisi yang dilema. Ketika saya mempunyai keyakinan “Hidup itu sederhana. Berusaha untuk membuat orang lain bahagia. Jika belum bisa membuat orang lain bahagia, minimal jangan menyakiti.” maka saya berada pada posisi yang semakin tertekan. Karena saya juga tidak suka ketika prinsip dan idealisme saya disentuh dengan terlalu dalam. Tapi akhirnya, keputusan memang harus dideklarasikan.

Saya memberikan saran kepada mas-mas yang dari awal menjalin komunikasi dengan saya, bahwa ia bisa mengikuti kelas training saya di tempat lain di sekitaran Jabodetabek, yang kemudian nanti ilmunya bisa ia bagikan pada kawan-kawannya di lembaga tersebut. Dan saya pikir solusi ini lebih bijak ketimbang saya melanjutkan acara tanggal 5, 6, 7 Februari tersebut, akan ada pihak-pihak yang terkesan memaksakan kehendak, sedangkan dari sudut pandang saya (sebenarnya) tidak ada yang ‘bersalah’ dalam kasus ini.

* * *

Sedikit membahas tentang musik. Ia ibarat akun Facebook yang Anda gunakan (hampir) setiap hari. Jika Anda gunakan untuk kebaikan, maka ia akan menjadi baik, jika Anda gunakan untuk keburukan, maka ia akan menjadi buruk.

Seperti juga ada hadits yang mengharamkan khamr (sesuatu yang memabukkan), namun, kini dunia kedokteran menggunakan alkohol dan narkoba sebagai bagian dari prosedur untuk menyelamatkan nyawa seseorang, dan jumhur berpendapat bahwa hal itu menjadi rukhsah.

Saat ini juga sudah banyak yang menggunakan musik sebagai media untuk terapi kesehatan. Ada yang berpendapat bahwa Quran lebih ‘manjur’. Ya, tapi untuk orang-orang dan hal-hal tertentu, itu tidak memungkinkan.

* * *

Demikian sedikit pengalaman saya tentang musik.
Bagaimana Anda memahami musik? Mungkin ada yang ingin membagikan pengalaman atau pandangan mengenai hal ini. Speak your mind.